Anggota PWI Dumai Dihajar Mafia BBM Hingga Babak Belur

Administrator
402 view
Anggota PWI Dumai Dihajar Mafia BBM Hingga Babak Belur
Ilustrasi.

DUMAI - Aksi kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini korbannya salah seorang anggota PWI Kota Dumai, Hendri yang tengah melakukan peliputan di lokasi “kencing minyak” (baca; penampungan BBM ilegal) yang berada di Jalan Perwira Bukit Timah, Kamis (23/09/21) menjelang tengah hari tadi.

Selain disekap di kamar mandi yang berada di dalam lokasi “kencing minyak”, Hendri juga dihajar dengan kayu bloti oleh 4 kawanan penjaga lokasi tersebut. Bagian wajahnya lebam-lebam, tangan serta punggung nyeri akibat pukulan yang bertubi-tubi. Kasus penganiayaan itu sudah dilaporkan ke Mapolres Dumai untuk langkah hukum selanjutnya.

Menurut informasi yang dihimpun majalahkupas.com, kasus penganiayaan itu berawal saat Hendri pulang dari peliputan dari kantor DPRD Kota Dumai. Dalam perjalanan tampak mobil tangki pertamina berwarna merah putih tengah bongkar muatan di lokasi “kencing minyak” tersebut.

Naluri persnya bergerak. Apalagi pihak pertamina dalam eksposnya menyebutkan tidak ada lagi truck BBM yang mampir di tempat mafia penimbunan minyak. Pasalnya, seluruh truck pertamina yang berwarna merah putih maupun putih biru telah dipasang alat deteksi. Namun kenyataannya masih ada yang masuk ke gudang lokasi penampungan minyak ilegal.

“ Waktu mau pulang menuju ke Dumai, saat lihat ada truck pertamina berwarna merah putih masuk ke dalam gudang penampungan ilegal. Padahal Pertamina informasinya telah memasang alat deteksi agar tidak ada lagi truck pengangkut BBM yang “kencing” di jalan. Saya berhenti dan langsung memotretnya,” ujar Hendri saat di temui di Mapolres Dumai.

Menurut Hendri, usai mengambil foto keluar salah seorang wanita dari lokasi itu. Dia menanyakan maksud pengambilan foto itu. Setelah dijelaskan Hendri bahwa dirinya sedang melakukan tugas jurnalistik, wanita itu meminta Hendri agar menunggu karena bosnya mau bertemu.

“ Wanita itu bilang, kalau mau uang jangan foto-foto. Saya bilang, tujuan saya bukan cari uang, tapi ini peliputan,” ungkap Hendri.

Namun wanita itu tetap meminta Hendri menunggu bosnya. Hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba datang 4 pria berbadan tegap dan berambut cepak menggunakan 2 unit kendaraan bermotor. Mereka langsung menabrak Hendri yang saat itu sedang duduk di atas sepeda motornya. Tidak cukup menabrak, 4 kawanan itu secara membabi buta langsung memukuli Hendri. Selain menggunakan helm, mereka juga memukuli Hendri dengan kayu bloti.

Menghadapi serangan mendadak itu, Hendri hanya pasrah. Apalagi ke empat pria itu tak henti memukulinya. Setelah puas memukuli, Hendri kemudian di bawa ke toilet yang berada di dalam lokasi “kencing minyak”. Dirinya kembali ditekan dengan berbagai kata-kata bernada ancaman. Sekali-kali dirinya kembali dipukuli lagi.

Telepon genggam milik korban juga mereka rampas. Dokumen foto yang sempat diambil korban dihapus oleh kawanan tersebut. Akibatnya, bukan Cuma dokumen foto yang hilang, namun telepon genggam milik korban juga rusak. Kaca layarnya retak karena terhempas saat diambil paksa oleh pelaku.

“ Mereka bilang kenapa cuma tempat usahanya yang diberitakan. Sementara tempat penampungan minyak lain masih banyak di Dumai. Saya diancam sambil dipukuli berulang kali,” kata Hendri.

Setelah puas menghajar korban, kawanan penjaga lokasi penampungan minyak ilegal itu kemudian memerintahkan Hendri untuk membuat surat perdamaian. Namun isi surat itu harus sesuai dengan keinginan mereka.

Hebatnya, Hendri diperintahkan membaca isi surat perdamaian tersebut sambil direkam oleh kawanan pelaku penganiayaan. Anehnya, rekaman yang diambil oleh kawanan itu kemudian beredar di media sosial. Sepertinya mereka ingin perdamaian yang dilakukan dibawah tekanan itu bisa menyelesaikan persoalan.

“ Surat itu sempat tiga kali rombak. Kalau isinya tidak sesuai keinginan mereka, saya dipukuli lagi. Akhirnya setelah 3 kali rubah, baru mereka puas. Saya mereka kasih uang 100 ribu untuk berobat. Tapi saya tolak,” jelas Hendri.

Karna menolak uang pengobatan itu, mereka kembali mengamuk dan memaksa Hendri untuk mengambilnya. Merasa terancam, Hendri akhirnya menggenggam uang tersebut. Namun ketika mereka lengah, uang itu di buang oleh Hendri dekat semak-semak sekitar lokasi gudang. Setelah itu Hendri bergegas pergi dan pulang menuju ke arah kota.

Rekan-rekan wartawan dan anggota PWI yang mendengar aksi kekerasan itu langsung emosi. Mereka bersama-sama mendampingi Hendri ke kantor polisi. Selain itu juga diambil visum bukti tindak kekerasan penjaga lokasi penampungan minyak ilegal tersebut.

Kasat Reskrim Polres Dumai, AKP Fajri menegaskan akan menyelidiki kasus penganiayaan wartawan itu. Pihaknya meminta agar dibuat laporan polisi secara resmi.

“ Silahkan buat laporan, akan segera kita tindaklanjuti,” ujar AKP Fajri.

Sementara Ketua PWI Kota Dumai, Bambang Rio sangat mengutuk keras aksi kekerasan terhadap wartawan yang dialami oleh anggota PWI Dumai.

“ Kita akan kawal kasus ini. Ini kriminal murni dan telah mengangkangi Undang-undang Pers nomor 40 tahun 1999. Kita akan buat Tim Infestigasi dari PWI,” tegas Bambang Rio.(Red-01)

Penulis
Redaksi.
Tag:Dumai
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers majalahkupas.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online majalahkupas.com Hubungi kami: redaksi.majalahkupas@gmail.com