Managemen “Sakit” Rumah Sakit

Administrator
223 view
Managemen “Sakit” Rumah Sakit
Dok.
RSUD Kota Dumai.

Gawat darurat. Kalimat ini patut disematkan melihat amburadulnya kondisi Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Dumai. Apalagi setelah matinya arus listrik pasca meledaknya travo pada akhir pekan lalu.

SEJUMLAHinformasi beredar di tengah publik pasca matinya arus listrik. Mulai terganggunya pelayanan kesehatan di RSUD Dumai, hingga operasi yang terpaksa menggunakan penerangan dari cahaya lampu telepon genggam. Tidak hanya itu, sejumlah peralatan medis juga tidak bisa digunakan secara maksimal. Termasuk alat analisa gas darah serta alat bantu pernafasan (ventilator) untuk pasien covid 19.

Salah seorang sumber di RSUD Dumai kepada Kupas Media Grup mengaku pasca matinya arus listrik pelayanan kesehatan tidak bisa berjalan maksimal. Kondisi itu tidak hanya menyulitkan tenaga medis, namun juga bisa mengancam keselamatan pasien. Pasalnya beberapa peralatan medis tidak bisa difungsikan.

Diantaranya labor di RSUD Dumai dan untuk pemeriksaan kondisi pasien terpaksa dilakukan di Klinik Thamrin. Hal ini butuh waktu lama untuk mengetahui hasilnya. Sementara penanganan medis harus sesegera mungkin. Telat sedikit bisa mengancam keselamatan nyawa pasien.

Selain itu alat analisa gas darah juga tidak berfungsi dan mengakibatkan tidak maksimalnya penanganan pasien covid 19 yang sedang menjalani perawatan di RSUD Dumai. Petugas medis kesulitan mengetahui kadar oksigen pada darah dan kabarnya terpaksa menggunakan perkiraan saja. Belum lagi tidak berfungsinya dengan maksimal alat bantu pernafasan bagi pasien covid 19 yang berada di ruang ICU RSUD Dumai.

“ Menyikapi kondisi yang ada, sebenarnya kita was-was juga. Apalagi ini menyangkut nyawa orang. Kita berharap pihak managemen rumah sakit bisa segera mengatasi persoalan ini,” ujar sumber di RSUD Dumai, Kamis (03/06/21) pekan lalu.

Salah seorang pasien yang menjalani operasi bedah juga sempat merasakan dampak matinya arus listrik di RSUD Dumai. Selama beberapa hari di rawat terpaksa tidur di kamar yang lumayan panas akibat tidak berfungsinya pendingin ruangan. Hanya ada penerangan lampu, namun juga tidak maksimal.

“ Untung mati lampunya setelah saya menjalani operasi bang. Saya tidak bisa membayangkan kalau listrik mati saat sedang operasi. Beberapa hari dirawat di sana terpaksa berpanas-panasan karena alat pendingin ruangan kamar mati,” ujar pasien tersebut.

Sementara pasien lainnya yang menderita penyakit lambung mengaku terpaksa menunggu beberapa hari untuk mengetahui hasil ultrasonografi (USG). Padahal jika dalam kondisi normal hanya butuh satu hari.

“ Orang tua saya masuk ke RSUD Dumai hari Senin pagi pekan lalu. Hasil USG baru bisa diperoleh hari Kamis. Selama dirawat disana, pasokan air juga bermasalah,” ujar keluarga pasien tersebut.

Meledaknya travo listrik tegangan menengah 20 KVA milik RSUD Kota Dumai pada, Minggu (30/05/21) lalu diduga akibat kelebihan beban. Kapasitas daya tidak seimbang dengan arus listrik yang digunakan. Apalagi pasca penambahan gedung dan ruangan baru, pihak managemen RSUD Dumai tidak membarengi dengan penambahan daya travo listrik.

“ Supplay arus listrik dari PLN tidak ada kendala. Matinya arus listrik di RSUD Dumai karena travo milik mereka meledak. RSUD memiliki travo sendiri karena termasuk kategori pelanggan besar. Untuk sementara kita backup melalui Unit Gardu Bantuan,” ungkap Humas PLN Dumai, Ivan kepada Kupas Media Grup.

Pada sisi lain, 3 mesin genset milik RSUD Dumai juga tidak dalam kondisi yang baik. Kabarnya sudah pernah diusulkan untuk servis dan pemeliharaan. Hanya saja tidak mendapat tanggapan dari pihak managemen rumah sakit. Dari 3 mesin yang ada itu, hanya 1 dalam kondisi baik. Sedangkan 2 mesin lagi kondisinya butuh perbaikan.

Ketika digunakan untuk menopang kebutuhan arus listrik pasca meledaknya travo, genset yang ada tidak bisa difungsikan secara maksimal. Malah salah satu dari mesin genset mengalami overhead dan mati sendiri setelah hidup 24 jam. 2 mesin genset tersisa akhirnya digunakan untuk menopang arus listrik di IGD, ICU dan Kamar Operasi. Hanya saja pasokan arus dari 2 genset itu tetap tidak maksimal.

Melihat pentingnya arus listrik, terutama untuk memfungsikan sejumlah peralatan medis, semestinya pihak managemen sudah sejak jauh hari melakukan penambahan daya travo di RSUD Dumai. Bukan sebatas bersolek mempercantik fisik bangunan, namun sepertinya lupa meningkatan sarana prasarana yang dibutuhkan.

“ Memperindah fisik bangunan itu bagus, tapi ada yang lebih penting, yakni meningkatkan sarana prasarana kesehatan yang dibutuhkan. Ini sampai ke parit saluran air di cat, sementara banyak yang lebih dibutuhkan. Kalaupun ada penambahan peralatan, justru tidak bisa dimanfaatkan. Contohnya pengadaan Cathlab kurang lebih senilai 17 miliar rupiah yang hingga kini tidak bisa dimanfaatkan,” ujar sumber di RSUD kesal.

Persoalan yang terjadi di RSUD Dumai bukan baru ini saja. Beberapa waktu lalu sejumlah tenaga medis malah sempat menggelar aksi demo. Akibatnya, ratusan pasien sempat terlantar dan tidak mendapat perawatan medis. Untung saja aksi yang digelar tidak lama. Berkisar 3 jam, pelayanan kembali dibuka.

Sebelum menggelar demonstrasi, Komite Keperawatan dan Komite Medis RSUD Dumai telah menyampaikan surat mosi tidak percaya terhadap Dirut RSUD Dumai serta pemberitahuan aksi mogok kerja kepada Walikota Dumai, DPRD Kota Dumai dan Kadis Kesehatan Dumai.

Surat tertanggal 16 April 2021 yang ditandatangani Ketua Komite Keperawatan, Ns Rika Widyana, S.Kep, M.Kep dan Ketua Komite Medis, dr Indrawan, Sp.B itu menyampaikan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan dr Ridhonaldi selaku Dirut RSUD Dumai serta persoalan sarana prasarana rumah sakit yang belum mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan sesuai SOP serta buruknya komunikasi pihak managemen RSUD dalam penyelesaian masalah yang ada.Tidak hanya itu, pelayanan juga kerap terganggu karena minimnya fasilitas maupun obat-obatan.

Soal minimnya obat-obatan di RSUD Dumai itu juga dirasakan praktisi media, Muhammad S Aidi yang membawa orang tuanya berobat ke RSUD Dumai belum lama ini. Untuk obat-obatan yang dibutuhkan, semuanya harus ditebus ke apotik yang ada di Dumai.

“ Aneh, rumah sakit minim stok obat-obatan. Setelah diperiksa, petugas medis mengarahkan saya untuk membeli sendiri obat-obatan ke apotik. Menurut saya managemen RSUD Dumai tidak mampu bekerja dengan baik,” tegas Muhammad S Aidi.

Ketidakmampauan pihak managemen RSUD Dumai itu juga terlihat pada pemenuhan hak-hak tenaga medis maupun perawat yang menangani pasien Covid 19. Klaim 29 pasien Covid 19 di BPJS kabarnya belum keluar sejak Desember 2020 hingga saat ini dan menyebabkan belum dibayarkannya hak-hak tenaga medis dan perawat.

Menyikapi kondisi yang ada itu, Walikota Dumai, H Paisal, SKM, MARS diminta memberikan perhatian serius terhadap kinerja managemen RSUD Dumai. Apalagi ini juga menyangkut program prioritas kepala daerah dalam bidang peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.

“ Menurut saya walikota harus tegas dan memberikan perhatian serius terhadap kinerja pihak managemen RSUD Dumai. Ini bukan sebatas masalah program kerja, tapi menyangkut keselamatan nyawa manusia,” ujar Pemerhati Sosial, Fatahuddin kepada Kupas Media Grup.(*)

Penulis
Faisal
Tag:DumaiRSUD
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers majalahkupas.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online majalahkupas.com Hubungi kami: redaksi.majalahkupas@gmail.com